Apa
itu kemampatan tanah?
Kemampatan tanah merupakan penambahan beban di atas
suatu permukaan tanah yang dapat menyebabkan lapisan tanah dibawahnya mengalami
pemampatan. Pemampatan ini disebabkan oleh adanya deformasi partikel tanah,
relokasi partikel, keluarnya air atau udara dari dalam pori, dan sebab-sebab
lainnya, semua faktor ini mempunyai hubungan dengan tanah yang bersangkutan.
Secara umum, penurunan pada tanah yang disebabkan oleh pembebanan terbagi
mejadi dua kelompok, yaitu penurunan konsolidasi (Consolidation Settlement) dan
penurunan segera (Immediate Settlement).
Penyebab settlement adalah penambahan beban diatas muka
tanah dan penurunan muka air tanah. Ada juga kompenen settlement yaitu :
■
Consolidation settlement (penurunan konsolidsi)/primary
consolidation/kemampatan konsolidasi, Sc
■
Imediatte settlemen (penurunan segera) Si
■
Secondary settlement (pemampatan sekunder), Ss
1. Penurunan
konsolidasi (Consolidation Settlement)
Penurunan konsolidas merupakan hasil dari perubahan volume
tanah jenuh air sebagai akibat dari keluarnya air yang menempati pori-pori
tanah.
Dasar-dasar Konsolidasi
Bila suatu lapisan tanah jenuh air diberi penambahan
beban, angka tekanan air pori akan naik secara mendadak. Pada tanah berpasir
yang tembus air (permeable), air dapat mengalir dengan cepat sehingga
pengaliran air pori keluar sebagai akibat dari kenaikan tekanan air pori dapat
selesai dengan cepat. Keluarnya air dari dalam pori selalu disertai dengan
berkurangnya volume tanah. Berkurangnya volume tanah dapat menyebabkan
penurunan lapisan tanah tersebut. Karena air di dalam tanah berpasir dapat mengalir
keluar dengan cepat, maka penurunan segera dan penurunan konsolidasi terjadi
bersamaan.
Bilamana suatu lapisan tanah lempung jenuh
air yang mampumampat diberi penambahan tegangan, maka penurunan akan terjadi
dengan segera. Koefisien rembesan lempung adalah sangat kecil dibandingkan
dengan koefisien rembesan pasir sehingga penambahan tekanan air pori yang
disebebkan oleh pembebanan akan berkurang secara lambat laun dalam waktu yang
sangat lama. Jadi untuk tanah lempung lembek perubahan volume yang disebabkan
oleh keluarnya air daridalam pori yaitu konsolidasi akan terjadi setelah
penuruan segera. Penurunan konsolidasi biasanya jauh lebih besar dan lebih
lambat serta lama dibandingkan dengan penurunan segera.
Deformasi sebagai fungsi waku dari tanah
lempung yang jenuh air dapat dipahami dengan mudah apabila digunakan suatu
model reologis yang sederhana. Model relogis ini terdri dari suatu pegas
elastis liner yang dihubungkan secara parallel dengan sebuah dashpot.
Hubungan
tegangan-tegangan dari pegas dan dashpot dapat dilihat dengan:
σ
pegas=daspot=ƞ
dimana
: tegangan=regangan=konstanta pegas
ƞ
= konstanta dashpot, t = waktu.
Grafik angka pori
Langkah-langkah
urutan pelaksanaannya:
●
Hitung tinggi butiran padat Hs
Dimana:
=
berat kering (tanah)
A
= luas penampang (tanah)
= berat spesifik (tanah)
= berat volume air
●
Hitung tinggi awal dari ruang pori Hv
Hv
= H-Hs
Dimana
: H = tinggi awal (tanah)
●
Hitung angka pori awal:
Untuk
penambahan beban pertama P1 (beban total/luas penampang (tanah)), yang
menyebabkan penurunan ΔH1, hitung perubahan angka pori, Δe1 :
ΔH1
didapatkan dari pembacaan awal dan akhir pada skala ukur untuk beban sebesar
P1.
●
Hitung angka pori yang baru, e1 setelah konsolidasi yang disebebkan oleh
penambahan tekana P1 :
=
-
Lempung
Yang Terkonsolidasi Secara Normal Atau Terlalu Terkonsolidasi
Suatu tanah dilapangan pada suatu kedalaman tertentu telah
mengalami “tekanan efektif maksimum akibat berat tanah diatasnya” dalam sejarah
geologisnya. Tekanan efektif overburden maksimum ini mungkin sama dengan atau
lebih kecil dari tekanan overburden yang ada pada saat pengambilan contoh
tanah. Berkurangnya tekanan dilapangan disebabkan oleh proses geologi alamiah
atau proses yang disebabkan oleh makhluk hidup. Pada selama ini, sebagai
akibatnya tanah tersebut akan mengembang. Pada saat terhadap contoh tanah
tersebut dilakukan uji konsolidasi, suatu pemampatan yang kecil akan terjadi
bila beban total yang diberikan pada saat percobaan adalah lebih kecil dari
tekanan efektif overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya oleh tanah
yang bersangkutan. Apabila, beban total yang diberikan pada saat percobaan
adalah lebih besar dari tekanan efektif overburden maksimum yang pernah dialami
oleh tanah yang bersangkutan, maka perubahan angka pori yang terjadi adalah
lebih besar, dan hubungan antara e versus log p menjadi linier dan memiliki
kemiringan yang tajam.
Keadaan ini dapat dibuktikan dilaboratorium
dengan cara membebani contoh tanah melebihi tekanan overburden maksimumnya,
lalu beba tersebut diangkat dan diberikan lagi. Keadaan ini mengarahkan kita
kepada dua definisi dasar yang didasarkan pada sejarah tegangan:
1.
Terkonsolidasi secara normal, dimana tekanan efektif overburden pada saat ini
adalah merupakan tekanan maksimum yang pernah dialami oleh tanah itu.
2.
Terlalu terkonsolidasi, dimana tekanan efektif overburden pada saat ini adalah
lebih kecil dari tekanan yang pernahdialami tanah itu sebelumnya. Tekanan
efektif overburden maksimum yang pernah dialami sebelumnya dinamakan
tekanan-tekanan prakonsolidasi.
Pengaruh
Kerusakan Struktur Tanah Pada Hubungan Antara Angka Pori Dan Tekanan.
Suatu contoh tanah dikatakan
“berbentuk kembali” apabila struktur dari tanah itu terganggu. Keadaan ini akan
mempengaruhi bentuk grafik yang menunjukkan antara angka pori dan tekanan dari
tanah yang bersangkutan. Untuk suatu tanah lempung yang terkonsolidasi secara
normal dengan derajat sensivitas rendah sampai sedang serta angka pori eo dan
tekanan efektif overburden po, perubahan angka pori sebagai akibat dari penambahan
tegangan di lapangan secara kasar.
Untuk tanah lempung yang terlalu terkonsolidasi dengan
derajat sensitivitas rendah sampai sedang dan sudah pernah mengalami tekanan
prakonsolidasi pc serta angka pori eo dan tekanan efektif overburden po.
Dengan pengetahuan yang didapat dari analisis hasil uji
konsolidasi, sekarang kita dapat menghitung kemungkinan penurunan yang
disebabkan oleh konsolidasi primer dilapangan dengan menganggap bahwa
konsolidasi tersebut satu dimensi.
Sekarang mari kita tinjau suatu lapisan lempung
jenuh dengan tebal H dan luasan penampang melintang A serta tekanan efektif
overburden rata-rata sebesar po.disebabkan oleh suatu penambahan tekanan
sebesar Δp, anggaplah penurunan konsolidasi primer yang terjadi adalah S. jadi
perubahan volume diberikan sebagai berikut:
ΔV
= V0 – V1 = H . A – (H – S) . A = S . A
Dimana
: V0 dan V1 berturut-turut adalah volume awal dan volume akhir dari pori, ΔVv
jadi:
ΔV=S
.A = Vv0 – Vv1 = ΔVv
Dimana
: Vv0 dan Vv1 berturut-turut adalah volume awal dan volume akhir dari pori.
Indeks Pemampatan
Indeks pemampatan yang digunakan untuk
menghitug besarnya penurunan yang terjadi dilapangan sebagai akibat dari
konsolidasi dapat ditentukan dari kurva yang menunjukkan hubungan antara angka
pori dan tekanan yang didapat dari uji konsolidasi di laboratorium.
●
Indeks pemuaian
Indeks
pemuaian adalah lebih kecil dari indeks pemampatan dan biasanya dapat
ditentukan dilaboratorium pada umumnya. Batas cair, batas plastis, indeks
pemampatan, dan indeks pemuaian untuk tanah yang masih belum rusak strukturnya
●
Penurunan yang mengakibatkan oleh konsolidasi sekunder
Pada
akhir dari konsolidasi primer, penurunan masih tetap terjadi sebagai akibat
dari penyesuaian plastis butiran tanah. Tahap konsolidasi ini dinamakan
konsolidasi sekunder. Selama konsolidasi sekunder berlangsung, kurva hubungan
antara deformasi dan log waktu adalah merupakan garis lurus. Variasi dari angka
pori dan waktu untuk suatu penambahan beban akan sama. Indeks pemampatan
sekunder dapat di definisikan sebagai:
Dimana
: indeks pemampatan sekunder = perubahan angka pori
t1 . t2 = waktu
kecepatan Waktu Konsolidasi
Penurunnan
total akibat konsolidasi primer yang disebabkan oleh adanya penambahan tegangan
diatas permukaan tanah dapat dihitung dengan menggunakan persamaan-persamaan.
Penurunan matematis dari persamaan didasarkan pada anggapan-anggapan berikut
ini :
Tanah
(system lempung air) adalah homogen.
Tanah
benar-benar jenuh.
Kemampumampatan
air diabaikan.
Kemampumampatan
butiran tanah diabaikan.
Aliran
air hanya satu arah.
Hukum
darcy berlaku.
Vz
= ki = -k
= - dx dy dz =
Koefisien Konsolidasi
Koefisien konsolidasi, biasanya akan berkurang dengan
bertambahnya batas cair dari tanah. Rentang dari variasi harga Cv dari uji
untuk suatu batas cair tanah tertentu adalah agak lebar. Untuk suatu penambahan
beban yang diberikan pada suatu contoh tanah ada dua metode grafis yang umum
dipakai untuk menentukan harga Cv dari uji konsolidasi satu dimensi di
laboratorium. Sala satu dari metode tersebut dinamakan metode algoritma waktu
yang diperkenalkan oleh Casagrande dan Fadum, sedangkan metode yang satunya
dinamakan metode akar waktu yang diperkenalkan oleh Taylor.
Penambahan tegangan vertikal didala tanah yang
disebabkan oleh beban dengan luasan yang terbatas akan bertambah kecil dengan
bertambahnya kedalaman z yang diukur dari permukaan tanah kebawah. Perhitungan
penambahan Δp pada persamaan-persamaan tersebut seharusnya merupakan penambahan
tekanan rata-rata, yaitu :
Untuk
Urata-rata ≤ 60%
T
=
Unruk
Urata-rata > 60%
T
= 1.781 – 0.933 log (100-U%)
Penurunan Pondasi total
Penurunan
total suatu pondasi dapat diberikan sebagai berikut :
ST
= S + Ss + ρi
Dimana
:
ST
= penurunan total
S
= penurunan akibat konsolidasi primer
Ss
= penurunan akibat konsolidasi sekunder
ρi
= penurunan segera
Contoh
kejadian penurunan di lapangan :
pada
saat ini banyak tersedia literatur contoh-contoh kejadian dimana prinsip dasar
kemampumampatan tanah yang digunakan untuk memperkaya besarnya penurunan yang
terjadi pada suatu lapisan tanah di lapangan yang diberi penambahan
beban. Dalam beberapa kejadian, besarnya penurunan yang terjadi di
lapangan adalah satu atau hamper sama dengan besarnya penurunan yang
diperkirakan. Dalam kejadian yang lain, perkiraan penurunan ternyata jauh
menyimpang dari penurunan yang terjadi sebenarnya di lapangan. Ketidak cocokan
antara penurunan yang diperkirakan dengan penurunan yang terjadi sesungguhnya
di lapangan mungkin disebabkan oleh beberapa sebab, antara lain :
1.
Evaluasi sifat-sifat tanah yang dilakukan ternyata kurang benar.
2.
Lapisan tanahnya ternyata tidak homogeny dan tidak teratur.
3.
Kesalahan dalam mengevaluasi penambahan tegangan bersih terhadap kedalaman,
yang ternyata sangat mempengaruhi besarnya penurunan.
2. Penurunan
Segera (Immediate Settlement)
penurunan
segara merupakan hasil dari deformasi elastis tanh kering, basa, dan jenuh air
tanpa adanya perubahan kadar air.
Pondasi Lentur dan Kaku
Penurunan segera atau penurunan elastis dari suatu
pondasi teradi dengan segera setelah pemberian beban tanpa mengakibatkan
terjadinya perubahan kadar air. Besarnya penurunan ini akan tergantung pada
ketentuan dari pondasi dan tipe dari material dimana pondasi tersebut
berada.
Suatu pondasi yang lentur yang memilikki
beban merata dan terletak diatas material yang elastis (seperti lempung yang
jenuh) akan mengalami penurunan elastis yang berbentuk cekung. Akan tetapi,
apabila pondasi tersebut kaku dan berada diatas material yang elastis seperti
lempung, maka tanah dibawah pondasi itu akan mengalami penurunan yang merata
dan tekanan pada bidang sentuh akan mengalami pendistribusian ulang.
Bentuk penurunan dan distribusi tekanan pada
bidang sentuh antara pondasi dan permukaan tanah seperti yang dijelaskan diatas
adalah benar apabila modulus elastisitas dari tanah tersebut adalah konstan
untuk seluruh kedalaman lapiasan tanah. Untuk tanah pasir yang tidak berkohesi,
modulus elastisitas akan bertambah besar bila kedalamannya bertambah. Disamping
itu, tekanan ke samping pada permukaan tanah di tepi pondasi ternyata lebih
kecil. Pasir di tepi pondasi lentur tertekan ke luar, dan kurva defleksi dari
pondasi tersebut mempunyai bentuk cembung menghadap kebawah. Distribusi tekanan
pada bidnag sentuh untuk pndasi lentur dan pondasi kaku yaitu sama dengan
penurunan pada pasir.
Perhitungan Penurunan Segera Berdasarkan
Teori Elastis
Penurunan
segera untuk pondasi yang berada di atas material yang elastis dapat dihitung
dari persamaan-persamaan yang diturunkan dengan menggunakan prinsip dasar teori
elastis. Bentuk persamaannya sebagai berikut :
ρi
= p . B
dimana
:
ρi
= penurunan elastis
p
= tekanan bersih yang dibebankan
B
= lebar pondasi (= diameter pondasi yang berbentuk lin=gkaran)
=
angka Poisson
E
= modulus elastisitas tanah (modulus Young)
factor
pengaruh (influence factor) yang tidak mempunyai dimensi
Schleicher (1926) memberikan persamaan faktor pengaruh untuk
bagian ujung dari pondasi persegi yang lentur sebagai berikut :
Irow
=1/phi [m1 In(1 + akar m1^2 + 1/m1)
+ In(m1 + akar m1^2 + 1)]
Dimana
:
m1
= panjang pondasi/lebar pondasi
Penurunan pondasi total
Penurunan
total suatu pondasi dapat diberikan sebagai berikut :
ST
= S + SS + ρi
dimana
:
ST
= penurunan total
S
= penurunan akibat konsolidasi primer
SS
= penurunan akibat konsolidasi sekunder
ρi
= penurunan segera
bilamana pondasi dibangun di atas lempung
yang sangat mampumampat (very compressible), maka penurunan konsolidasi akan
beberapa kali lebih besar daripada penurunan segera (ρi).
Harga-harga Modulus Young
Jenis
Tanah Modulus Young
psi -------- kN/m2
Lempung
lembek 250-500 1380-3450
Lempung
keras 850-2000 5865-13.800
Pasir
lepas 1500-4000 10.35027.600
Pasir
padat 5000-10.000 34.500-69.000
Note
: 1 psi = 6,9 kN/m2
Harga-harga Angka Poisson
Jenis
Tanah
Angka Poisson.µ
Pasir
lepas
0,2-0,4
Pasir
agak padat 0,25-0,4
Pasir
padat
0,3-0,45
Pasir
berlanau 0,2-0,4
Lempung
lembek 0,15-025
Lempung
agak kaku 0,2-0,5
Contoh
kejadian penurunan di lapangan
Pada
saat ini, banyak tersedia dalam literature contoh-contoh kejadian dimana
prinsip dasar kemampumampatan tanah digunakan untuk memperkirakan besarnya
penurunan yang terjadi pada suatu lapisan tanah di lapangan yang diberi
penambahan beban. Dalam beberapa kejadian, besarnya penurunan yang terjadi di
lapangan adalah sama atau hampir sama dengan besarnya penurunan yang
diperkirakan. Dalam kejadian yang lain, perkiraan penurunan ternyata jauh
menyimpang dari penurunan yang terjadi sebenarnya di lapangan. Ketidakcocokan
antara penurunan yang diperkirakan dan penurunan yang terjadi sesungguhnya di
lapangan mungkin di sebabkan oleh beberapa sebab, antara lain :
Evaluasi
sifat-sifat tanah yang di lakukan ternyata kurang benar.
Lapisan
tanhanya ternyata tidak homogen dan tidak teratur.
Kesalahan
dalam mengevaluasi penambahan tegangan bersih terhadap kedalaman, yang ternyata
sangat mempengaruhi besarnya penurunan.